Avogadro Group

https://www.facebook.com/groups/436762759697721/

Beranda

Kamis, 11 Oktober 2012

Terjemahan Lagu Kampuang Nan Jauh Di Mato (Minangkabau)



Masyarakat minang mendiami wilayah Sumatra utamanya Sumatra Barat yang biasa mereka sebut dengan ’Ranah Minang’. Masyarakat Minang, menganut matrilineal, yang mengambil garis keturunan dari ibu, dimana perempuan menjadi penerus keluarga. Sedangkan kaum lak-laki, banyak berada di surau dan bekerja untuk mengurusi keponakannya. Ya, kamu lelaki di  Minangkabau tidak bertanggungjawab atas anak-anak mereka. Mereka hanya bertanggung jawab pada anak-anak dari saudara perempuannya. Hal ini menjadi kontroversi saat masuknya agama islam yang menganut patrilineal yang jelas-jelas bertentangan dengan adat Minang. Hal ini pulalah yang memicu terjadinya perang Padri, yang terjadi di zaman penjajahan Belanda, dimana kaum adat masih kukuh mempertahankan adat matrilineal dan kaum agama yang ingin menegakkan ajaran islam dengan benar. Meski agama islam merupakan agama yang paling banyak dianut di ranah minang, seiring dengan perkembangan zaman, beberapa adat ini mungkin masih dijalankan, namun mengikuti perkembangan modern dan ajaran islam pula.
Namun tak jarang, baik zaman dahulu maupun sekarang, banyak dari kaum laki-laki di Minang yang merantau ke seluruh penjuru nusantara. Biasanya mereka berdagang atau bahkan membuka Restoran Padang yang banyak ditemui di berbagai tempat.
Untuk referensi rumah makan Padang yang enak di Surabaya, anda bisa datang di Jl.Ciliwung depan RS. St. Joseph yang bernama "Pusako Bundo". yang artinya pusaka bunda. Meski mungkin penampilannya masih kalah dibanding restoran padang yang besar dan classy, namun cita rasanya tidak kalah dengan yang lain karena dirasa masih mirip dengan yang asli. Saya sudah berkeliling di Surabaya bersama kawan saya dan pilihan terbaik jatuh pada rumah makan ini.
Dari perantauan itulah, maka tak heran diciptakannya lagu Kampuang nan Jauh di mato (dan terjemahannya), yang menggambarkan kerinduan masyarakatnya pada kampung halamannya yang nun juah disana. Berikut ini liriknya :
Kampuang nan jauh di mato
Kampuang nan jauh di mato
T
E
R
J
E
M
A
H
A
N
Kampung yang jauh di mata
Kampuang nan jauh di mato
Gunung sansai bakuliliang
Den takana jo kawan, kawan lamo
Sangkek basuliang-suliang
Panduduaknyo nan elok
Nan suko bagotong-royong
Kok susah samo samo diraso
Den takana jo kampuang
Takana, jo kampuang
Induak ayah, adik sadonyo
Raso mangimbau-imbau,
Den pulang
Den takana jo kampuang
Kampung yang jauh di mata
Gunung bukit berkeliling
Saya rindu padamu sahabat, sahabat lama
Seruling bersahut-sahutan
Penduduknya elok
Yang suka bergotong-royong
Kalau susah sama-sama dirasa
Saya terkenang pada kampung halaman
Terkenang, pada kampung halaman
Ibu ayah, adik semua
Terasa memanggil-manggil
Saya pulang
Terkenang, pada kampung halaman
Dari liriknya, dapat ditarik kesimpulan sebenarnya, ini adalah lagu sedih yang menggambarkan betapa rindunya warga perantauan asal minang pada kampung halamannya.

0 komentar:

Poskan Komentar